Beranda » Review Film Violet Evergarden Eternity and the Auto Memories Doll

Review Film Violet Evergarden Eternity and the Auto Memories Doll

Indonesian Otaku kali ini akan melakukan review film Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memories Doll. Berikut ulasan dari kami, dan selamat membaca.

Setelah musibah yang menimpa Kyoto Animation setahun lalu, film terbitan terbaru mereka masih berada di atas standar mereka. Setelah menyaksikan Violet Evergarden: Eien to Jidoushuki Ningyou Minggu lalu, kesannya masih berbekas hingga beberapa hari setelahnya.

Mengambil Kebiasaan Sepele Orang Jepang

Orang Jepang memang punya kebiasaan mengambil profesi atau kegiatan yang kelihatannya sepele untuk dijadikan tema dasar yang kadang menjadi dalam—ambil sebagai contoh anime Gaikotsu Shoten’in Honda-san dari tahun lalu. Film ini pada dasarnya seperti itu, tapi profesi yang diambil ada industri pos dan industri ghostwriting.

Sebagai latar belakang, Violet Evergarden menceritakan sang karakter titular yang dibebastugaskan dari militer sebagai pemain Fortnite prajurit elit militer setelah kehilangan tangannya dan karena perang juga sudah usai. Pada saat kejadian yang mengakibatkan cideranya terjadi, ia juga kehilangan pelatihnya yang sempat mengatakan bahwa ia menyayangi Violet.

Oleh karena pelatihan militer yang diterima Violet mengakibatkan Violet menjadi apatis sampai-sampai ia tidak bisa memahami perasaan yang ia rasakan pada pelatihnya yang sudah gugur, Violet memutuskan untuk berbaur dengan masyarakat dengan menjadi Automatic Memory Doll, pekerjaan yang pada dasarnya adalah ghostwriter untuk orang yang tidak bisa baca-tulis. Film ini menceritakan Violet yang sedang bekerja di Claudia Hodgins Postal Company, disingkat CH Postal Company.

Violet Evergarden Dapat Tugas Baru

Dalam film ini, Violet Evergarden ditugaskan untuk mengawasi putri bangsawan darah merah bernama Isabella York. Isabella adalah seorang murid di sekolah bangsawan wanita yang kesulitan menyesuaikan diri ke dalam kehidupan bangsawan yang menurutnya mengekang, tidak bebas, dan membuat kesepian. Cara hidupnya ini membuatnya tidak menyukai Violet yang dalam pandangannya bebas, tidak seperti dirinya.

Meski demikian, Violet bersikap sesuai dengan tugasnya sehingga Isabella yang kesepian perlahan membuka diri, bahkan hampir menjurus ke arah cinta terlarang—yang mana mungkin orang lain tidak setuju, tapi disorot blak-blakan dengan animasi bunga lily mekar saat mereka mulai jadi sahabat dan animasi bunga lily layu begitu mereka harus berpisah. Selain itu, merchandise yang dibagikan pihak Cinepolis setelah penayangan juga bergambar Violet Evergarden sedang memegang bunga lily berwarna violet—tapi bukan itu fokus bahasan ulasan ini, oke?

Ambil Prespektif Karakter Baru: Isabella

review film violet evergarden isabella

Separuh pertama film Violet Evergarden Eternity and the Auto Memories Doll ini adalah sisi Isabella, dari mulai menerima dan membiasakan diri ke kehidupannya yang baru sambil menerangkan masa lalunya pada Violet Evergarden. Isabella tidak dilahirkan di keluarga York sejak awal. Nama asli Isabella adalah Amy Bartlett; rakyat jelata yang juga korban dari perang. Kehidupannya yang pahit membuat Amy tidak bisa berpaling dari anak buangan yang ia temukan di luar satu toko rongsokan

Amy mengangkat anak tersebut sebagai adiknya, memberikan nama Taylor padanya dan keduanya hidup bersama. Meski demikian, suatu hari seorang bangsawan dari keluarga York mengajak Amy untuk menjadi putrinya oleh karena dulunya ia dan Ibu dari Amy memiliki hubungan. Meski tengah dalam hidup bahagia bersama Taylor, Amy tahu bahwa ia tidak bisa hidup terus seperti ini bersama Taylor. Amy pun menerima tawaran tersebut meski Amy tidak bisa lagi menemui Taylor.

Isabella dan Taylor, Membiasakan Diri dengan Kehidupan Baru

Beban perpisahan ini dibawa Amy—sekarang Isabella York—ke kehidupannya yang baru. Setelah memahami perasaany sahabat barunya, Violet menawarkan Isabella untuk menuliskan surat pada Taylor. Perasaan Isabella pada Taylor tersampaikan dan kisah berlanjut dari sisi Taylor.

3 tahun kemudian Taylor mendatangi CH Postal Company untuk menemui Violet Evergarden. Pada saat surat dari Isabella dikirimkan pada Taylor, Violet juga mengirimkan suratnya sendiri yang berisikan bahwa jika Taylor butuh bantuan maka temui Violet. Taylor dan Violet bertemu, lalu Taylor menyatakan bahwa ia ingin menjadi pengantar surat karena menurutnya tugas pengantar surat adalah mengantarkan kebahagiaan.

Bagian awal cerita Violet Evergarden Eternity and the Auto Memories Doll ini adalah tentang Taylor membiasakan diri dengan kehidupan barunya dan mempelajari kiat-kiatnya. Namun bagian akhir kisahnya adalah tentang keinginan Taylor mengirimkan pesan pada Isabella yang tiba-tiba menghilang setelah lulus dari sekolahnya 3 tahun lalu. Waktu berlalu melacak keberadaan Isabella melalui jaringan pengantar surat hingga akhirnya selesai dengan reuni pareidolik antara Taylor dan Amy Bartlett.

Sentimen Umum yang Digunakan KyoAni Kembali Dimunculkan

review film violet evergardenSecara cerita, film Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memories Doll mengadopsi kebiasaan yang disebutkan di awal dan mengikuti gaya sentimen yang sudah dipatok Kyoto Animation di Liz & Aoi Tori dan Koe no Katachi—dan mungkin sedikit mengingatkan pada Clannad yang dulu. Ceritanya atmosferik dan serius tapi masih terasa ringan.

Kesannya adalah imbangan antara masa kejayaan Studio Ghibli & ke-modern-an film-film Makoto Shinkai, lalu dibuat lebih dewasa. Bagi orang lain mungkin berbeda, tapi meski ada beberapa bagian yang menyentak air mata, tapi emosi yang dibawa cukup natural dan tidak terpaksa dipaksakan.

Tidak bisa dibilang cerita film ini sempurna, tapi cerita yang dibawakan cukup rapih sampai terasa mumpuni. Ceritanya dapat berdikari dan tidak membutuhkan banyak dedikasi pada serinya secara keseluruhan dan bisa dinikmati pemirsa yang luas.

Review Film Violet Evergarden: Miliki Pesona Tersendiri

Tak menarik rasanya apabila dalam review film Violet Evergarden Eternity and the Auto Memories Doll ini, kita tidak membahas mengenai artistik pada film ini. Meski tidak se-wah film Makoto Shinkai, tapi film ini punya pesonanya tersendiri. Estetika dunia di era victorian digambarkan dengan elok baik pemandangan, gaya pakaian, dan gaya kehidupannya.

Beberapa adegan digabungkan dengan CGI tapi tidak banyak yang tampak aneh, satu-satunya adegan yang agak dipaksakan hanya adegan overshot Isabella mendekati akhir film karena latarnya tampak bengkok tidak proporsional. Jika teliti, kalian juga mungkin bisa menemukan logo KyoAni tersembunyi di beberapa adegan.

Pendapat saya dalam review ini, film Violet Evergarden kali ini sengaja dibuat demikian agar bisa dinikmati tanpa ada batas waktu. Tapi entahlah, mungkin nanti jaman akan berubah.

Ditulis oleh Fathi Anshori untuk Indonesian Otaku.

Leave a Comment