Beranda » Eizouken Ni Wa Te Wo Dasu Na Episode 4: Hargailah Animator!

Eizouken Ni Wa Te Wo Dasu Na Episode 4: Hargailah Animator!

Episode 4 dari “Eizouken ni wa Te wo Dasu na!!” telah disiarkan kemarin malam di NHK-G. Bagaimanakah petualangan dari Midori, Tsubame dan Sayaka untuk mewujudkan ambisinya menjadi animator papan atas di seantero Jepang?

Sinopsis Eizouken Ni Wa Te Wo Dasu Na Episode 4

eizouken ni wa te wo dasu na 2

Menjelang rapat komite OSIS SMA Shibahama, klub peneliti film menemui kesulitan dalam produksi animasi pertama mereka, “Pegang Parangmu Dengan Erat!”.

Tersandung dengan efek animasi yang memakan waktu saking sulitnya untuk digambar dengan tangan, mereka terpaksa bekerja sehari semalam di ruang klubnya supaya bisa selesai tepat waktu. Apakah solusi Midori bisa berdampak baik bagi kelangsungan dari klub Eizouken-nya?

Kesulitan Klub Eizouken, Beralih Bekerja SKS

Episode ini dibuka dengan Tsubame dan Midori bekerja menyelesaikan proyek animasi pendek mereka untuk dipresentasikan kepada rapat OSIS SMA Shibahama. Tsubame menemui kesulitan dalam pengerjaan efek asap ledakan dari animasi mengenai anak SMA melawan tank dengan senjata parang.

Menemui Tsubame, Midori membantu menerangkan pengerjaan efek animasi tersebut yang telah dikerjakan di beberapa anime klasik. Ketika Sayaka mendatangi keduanya, Ia mengingatkan soal deadline sebelum rapat OSIS diadakan nantinya, jadi mereka harus menyelesaikannya hingga semalam suntuk.

Kenyataannya, Midori dan Tsubame menyelesaikan 36 potong animasi selama satu bulan, lantaran mengira terlalu banyak animasi digambarkan.

Sayaka bahkan menyarankan untuk bekerja semalam suntuk dalam satu bulan sekaligus, namun Midori memberikan satu solusi. Yaitu gambar latar selama sepuluh detik dianimasikan kamera ketimbang menekankan kepada gerak animasinya sendiri.

eizouken ni wa te wo dasu na 3

Sehari sebelum rapat OSIS, Midori menginap di lab komputer sekolah menyelesaikan bagian animasinya hingga pukul 4 pagi.

Ketika Sayaka membangunkannya dan menanyakan soal progress dari animasinya, Midori mengatakan bahwa tidaklah penting soal menyelesaikan proyeknya, yang penting hasil dari passion untuk mengerjakan daripada rasa putus asa atau menyerah.

Tsubame menyelesaikan beberapa bagian animasinya dan langsung bergegas ke sekolah pasca menghubungi Sayaka, kemudian mereka kembali menyelesaikan anime pendek mereka.

Pembayaran Yang Setimpal

Pada saat rapat OSIS untuk menentukan proposal yang layak untuk menerima pendanaan kepada beberapa ekskul, klub Eizouken dipermasalahkan kinerjanya oleh anggota OSIS.

Salah satu anggotanya menyebut adanya infrastruktur yang dirusak dalam ruangan klub tersebut, namun Sayaka tidak melihat ada problem soal isu tersebut. Lantas komite OSIS akan mendeklarasikan proposal Eizouken ditolak, Midori menyanggah.

Sebagai pekarya animasi anak sekolah, menurut Midori, tidak perlu memikirkan selesainya sesuatu yang ingin diselesaikan, melainkan bagaimana Kita bisa menikmati, baik pekerja animasi atau penonton, pada hasil produknya.

Tidak peduli orang mau bilang apa soal hasilnya, namun apresiasi karya lebih diinginkan para animator atas hasil peras keringat mereka.

Pegang Parangmu Dengan Erat!

Klimaks dari episode ini yaitu pemutaran anime pendek Eizouken berjudul, “Pegang Parangmu Dengan Erat!”, yang membuat seluruh penonton di aulanya takjub. Talenta dari animator Eizouken secara realistis diperagakan dengan animasi yang mantap, meskipun terlihat sederhana saking budget ketat.

Adegan pertama memperlihatkan seorang gadis bersiap meloncat keluar dari pesawat menghadapi sebuah tank penyerang di tengah ngarai.

Setelah keluar, ia terbang menemui targetnya dengan landskap pegungunan batu tak berpenghuni, kemudian jatuh nekat tanpa memperhatikan keselamatannya. Pewarnaan cewek SMA pun terlihat tidak kompleks begitu juga pemilihan warna pada lingkungan dalam setting tempat.

Di adegan selanjutnya, ketika mulai berpapasan dengan musuhnya, cewek tersebut bersiap menyerang seraya mengayunkan parangnya sebagai pemanasan. Memulai berlari ke sisi kiri tank, musuh tersebut memuntahkan pelurunya berupaya mematikan cewek tersebut.

Namun, usahanya sia-sia karena cewek tersebut mengelak dengan gesit hanya dengan meloncat beberapa meter saja. Setelah mendapati tank musuh, sang gadis mengayunkan parangnya mengenai perisai baja yang melapisi tubuh tank tersebut, namun tidak berhasil dan terpaksa melanjutkan kejar-kejarannya.

Di penghujung anime pendeknya, sang cewek mendapati gunung batu tertinggi dan menanjaknya dengan sebuah tali hiking dari dalam alatnya. Kemudian Ia berlari menuju puncan dan terjun bebas tepat mengarah ke meriam tank tersebut dan menghujam dalam ke lapisan baja tank tersebut hingga meledak.

Cut terakhir anime tersebut memperlihatkan sang cewek SMA menunjukkan kemenangannya dengan mengangkat parangnya menghadap langit, tepat sebelum kata “END” muncul.

Klub Eizouken: “Masih bisa lebih baik lagi, kok…”

Selepas pemutaran tersebut, penonton hanya ternga-nga melihat potensi dari klub Eizouken yang setidaknya layak untuk mendapat suntikan dana dari OSIS. Namun lain hanya dengan tiga gadis klub tersebut, yang mendapati beberapa bagian di potongan animasi yang perlu di-improve.

Mulai dari pewarnaan tank dengan teknik two-tone hingga warna abu-abu, transisi antar keyframe saat terjun tidak terlalu bagus, asap berdebu mesti ditambahkan tekstur untuk realisme, hingga hal teknis lainnya.

Meski demikian Komite OSIS akhirnya menyetujui proposal dana untuk klub Eizouken, yang merupakan langkah baik bagi ketiga gadis penghuni klub Eizouken tersebut.

Topik Animasi dan Danus Kembali Mencuat!


Efek animasi tersebut memang sangat sulit digambar dengan tangan sedangkan audiens lebih ingin mengapresiasikan lebih ke gerak karakter dan gambar latar.

Dikarenakan memakan waktu untuk menggambar efek khusus tersebut dan menggelontorkan biaya yang tak sedikit, animator menemui banyak kesulitan kala efek serupa dalam komputer belum ditemukan.

Anime kekinian, menurut hemat penulis, mengandalkan lebih kepada efek ledakan stock yang tersedia di software khusus animator. Dibanding dengan yang pernah ditayangkan sekitar sepuluh atau bahkan dua puluh tahun silam, efek ledakan tersebut hanya memakan sedikit keyframe.

Ini menyangkut alokasi dana yang diberikan oleh sponsor dari anime tersebut harus tepat sasaran dari manajemen proyek, agar tidak membengkak pada produksi keseluruhan satu franchise saja.

eizouken ni wa te wo dasu na 7

Episode ini menekankan kepada gerak animasi yang diperagakan oleh banyak animator disutradarai khusus oleh Fuga Yamashiro. Empat sutradara animasi pun dikerahkan dalam episode ini untuk membawakan beberapa adegan dramatisasi pengerjaan tiga gadis Eizouken ini.

Pada anime pendek sebagai penjejakan pertama klub Eizouken ini, mereka telah berhasil meyakinkan para audiens termasuk siswa-siswi komite OSIS untuk mendapatkan pendanaan dari sekolah.

Gaya realistis, kemudian penempatan keyframe yang efektif untuk anime budget merupakan faktor terpenting dibalik produksi anime secara keseluruhan.

Topik ini merupakan kontroversi diantara pekerja animasi di industrinya. Banyak penggemar pop kultur beranggapan bahwa ketika dana yang dialokasikan secara baik, tidak peduli besarnya, akan berdampak besar bagi segalanya.

Misalkan, dalam satu franchise anime yang diadaptasi dari novel remaja atau lebih gampangnya dari isekai, profit dari penjualan Blu-Ray pada musim pertama sangat krusial bagi kualitas musim berikutnya.

Banyak dari franchise di pop kultur yang berhasil mendapatkan adaptasi anime namun produksi bergerak lambat karena beberapa faktor.

Namun dana dari sponsor, profit dari penjualan Blu-Ray serta merchandise tetaplah memegang kunci kesuksesan dari franchise anime sendiri.

Meskipun suatu anime yang dibuat mati-matian oleh beberapa animator tetap dipuji dengan baik, tetaplah akan kalah dengan pendanaan kepada anime yang dibuat dengan baik meski alokasi budget terbilang cekak.

Sama artinya dengan pembuatan film kelas blockbuster yang terkadang dana tidak sebanding dengan prestasi dari film itu sendiri.

Impresi Eizouken Episode 4

eizouken ni wa te wo dasu na 8

Penulis rasa dalam episode ini adalah sebuah pembuka mata bagi awam betapa sulitnya pembuatan anime dengan mengandalkan ide dan duit yang sedikit.

Anime Eizouken garapan Masaaki Yuasa episode 4 ini serasa mengatakan bagi penontonnya agar lebih menghargai animator yang mengorbankan semuanya demi kepuasan para penggemar.

Terlebih lagi, menggunakan fasilitas yang tersedia pun jika menghadapi deadline akan terasa sangat menekan normalitas animator itu sendiri. Padahal, para pekerja animasi pun bekerja keras demi sesuap nasi dan bayar sewa apartemen.

Penulis berpesan kepadamu bahwa mulai sekarang hargailah sineas animasi mulai dari animator hingga sutradara karena telah sukses mengenalmu ke dalam dunia anime dan pop kultur masa kini.

1 thought on “Eizouken Ni Wa Te Wo Dasu Na Episode 4: Hargailah Animator!”

Leave a Comment